Janganlah berkata “Tuhan, aku punya masalah yang besar”
tapi berkatalah “ Masalah, aku punya Tuhan Yang Maha besar”.
Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Lengkap dengan kadarnya masing-masing. Bukankah kau paham bahwa masalah akan selalu menyertaimu selama kau masih hidup? Tapi, Kenapa kau selalu merasa masalahmu lah yang paling besar? Paling berat, sehingga kau terpuruk jauh dilubang keputusasaan.
Masalah, ia akan senantiasa menjadi temanmu yang setia selama perjalanan hidupmu. Membuatmu merasakan warna-warni dunia, pahit manisnya dunia. Kalaupun manusia tidak diberikan masalah, niscaya ia akan mencarinya. Karena masalahlah yang membuat manusia merasakan kehidupan. Bukankah hanya orang mati yang tidak mempunyai masalah? Kau bukan orang yang mati bukan??
Aku tahu pasti bahwa masalah kadang membuatmu lelah, capek, bingung dan bahkan membuatmu terpuruk. Dunia terasa sempit, dan seakan-akan siap menghimpitmu. Berat!! Tiap langkah yang kau jalani terasa berat seakan-akan tangan gaib menarik kakimu, menyuruhmu untuk tetap diam ditempat, memintamu menikmati ketidakberdayaanmu. Yah, itulah masalah.
Lelahkah engkau menjalani hidupmu? Letihkah kau memegang amanah yang dianugrahkan padamu? Capek, lemah, mengeluhkah engkau dalam menjalani keseharianmu?? Lalu apa yang kau inginkan?? Hidup bebas tanpa masalah?? Bukankah kau tahu itu hal yang tak mungkin terjadi?? Tapi kenapa kau menyerah kalah dengan masalah??
Ah, masalahmu akan selalu ada. Kau selesaikan sekarang pun ia akan datang kembali dalam bentuk yang berbeda. Menyapamu kembali dalam sosok yang berbeda. Ah, dia pasti tak akan jauh darimu. Jadi apa masalahnya??apa masalahmu??
Masalahnya, bukanlah terletak pada masalah yang mendatangimu tapi pada sikapmu terhadapnya. Yang seharusnya kau takutkan bukanlah pada “masalah”nya tapi pada sikapmu terhadap masalah tersebut.
Apakah kau akan mencoba berteman dengannya?? Atau memusuhinya??
Memarahinya?? Atau kau akan mencoba menantangnya?? Atau menjadi pengecut yang lari darinya??
Ah, apa yang kau takutkan?? Masalah itu hanyalah “sesuatu” yang memenuhi kepalamu saja. Ia abstrak, tergantung penyikapanmu terhadapnya. Sikapmu terhadapnya lah yang membuatnya menjadi nyata.
Ah, apa yang kau takutkan?? Kau merasakan kesusahan ketika bertemu dengannya??
Lo??, bukankah Tuhanmu telah mengajarkanmu bagaimana seharusnya kau menyikapi masalahmu??
Ingatkah kau bahwa bersama kesusahan selalu ada 2 kemudahan?? Yakinkah kau??
Ah, sayangnya aku dan kau memang sering lupa, bahwa sebuah kesusahan itu dikalahkan oleh 2 kemudahan. Sayangnya kita selalu terfokus pada kesusahan masalah daripada kemudahan yang bersamanya. Sebenarnya, yang kita perlukan hanyalah merubah sudut pandang kita, cara kita memandang masalah itu. Lihatlah kemudahannya bukan kesusahannya. Seharusnya….
Bukankah masalah itu seperti soal ujian yang diberikan guru kepada
muridnya??. Gurunya adalah Allah yang hendak menguji kita hambanya ini dengan soal-soal kehidupan yang harus kita selesaikan. Untuk apa? Agar dapat membedakan mana murid yang pandai, mana murid yang kurang. Mana murid yang selalu mendengarkan penjelasan guru, mana yang ogah-ogahan. Mana murid yang patuh pada perintah dan ajaran guru mana yang tidak memperdulikannya. Jadi untuk sukses menjawab soal, tak akan bisa hanya dengan melihat soalnya saja. Dekati gurunya. Dengarkan penjelasannya, patuhi perintahnya, jauhi larangannya.
Niscaya kita akan berhasil mengerjakan. Dan, jika kita berhasil mengerjakan soalnyanya, kita akan naik tingkat dan guru pun akan menyukai kita. Maukah kau menjadi murid teladan di sisi gurumu??
Nah, sahabat. Hadapi masalahmu dengan mendekat dengan-Nya. Kau tak akan bisa jika kau hanya mengandalkan kemampuanmu semata. Kau butuh Dia Yang Maha Kuasa untuk membantumu. Sudahkah kau memohon petunjuk pada-Nya tentang masalah yang kau hadapi??
Sahabat, marilah kita bersama-sama mendatangiNya, bertanya padaNya, memohon petujukNya. Karena masalah yang ia berikan pada kita sebenarnya untuk kita sendiri. Kitalah yang mengubah masalah itu menjadi hal buruk karena sikap kita terhadap masalah tersebut.
Karena untuk menjadi tajam, pisau memang harus diasah..
Karena untuk naik kelas, murid memang harus diuji..
Wallahu’alam
tapi berkatalah “ Masalah, aku punya Tuhan Yang Maha besar”.
Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Lengkap dengan kadarnya masing-masing. Bukankah kau paham bahwa masalah akan selalu menyertaimu selama kau masih hidup? Tapi, Kenapa kau selalu merasa masalahmu lah yang paling besar? Paling berat, sehingga kau terpuruk jauh dilubang keputusasaan.
Masalah, ia akan senantiasa menjadi temanmu yang setia selama perjalanan hidupmu. Membuatmu merasakan warna-warni dunia, pahit manisnya dunia. Kalaupun manusia tidak diberikan masalah, niscaya ia akan mencarinya. Karena masalahlah yang membuat manusia merasakan kehidupan. Bukankah hanya orang mati yang tidak mempunyai masalah? Kau bukan orang yang mati bukan??
Aku tahu pasti bahwa masalah kadang membuatmu lelah, capek, bingung dan bahkan membuatmu terpuruk. Dunia terasa sempit, dan seakan-akan siap menghimpitmu. Berat!! Tiap langkah yang kau jalani terasa berat seakan-akan tangan gaib menarik kakimu, menyuruhmu untuk tetap diam ditempat, memintamu menikmati ketidakberdayaanmu. Yah, itulah masalah.
Lelahkah engkau menjalani hidupmu? Letihkah kau memegang amanah yang dianugrahkan padamu? Capek, lemah, mengeluhkah engkau dalam menjalani keseharianmu?? Lalu apa yang kau inginkan?? Hidup bebas tanpa masalah?? Bukankah kau tahu itu hal yang tak mungkin terjadi?? Tapi kenapa kau menyerah kalah dengan masalah??
Ah, masalahmu akan selalu ada. Kau selesaikan sekarang pun ia akan datang kembali dalam bentuk yang berbeda. Menyapamu kembali dalam sosok yang berbeda. Ah, dia pasti tak akan jauh darimu. Jadi apa masalahnya??apa masalahmu??
Masalahnya, bukanlah terletak pada masalah yang mendatangimu tapi pada sikapmu terhadapnya. Yang seharusnya kau takutkan bukanlah pada “masalah”nya tapi pada sikapmu terhadap masalah tersebut.
Apakah kau akan mencoba berteman dengannya?? Atau memusuhinya??
Memarahinya?? Atau kau akan mencoba menantangnya?? Atau menjadi pengecut yang lari darinya??
Ah, apa yang kau takutkan?? Masalah itu hanyalah “sesuatu” yang memenuhi kepalamu saja. Ia abstrak, tergantung penyikapanmu terhadapnya. Sikapmu terhadapnya lah yang membuatnya menjadi nyata.
Ah, apa yang kau takutkan?? Kau merasakan kesusahan ketika bertemu dengannya??
Lo??, bukankah Tuhanmu telah mengajarkanmu bagaimana seharusnya kau menyikapi masalahmu??
Ingatkah kau bahwa bersama kesusahan selalu ada 2 kemudahan?? Yakinkah kau??
Ah, sayangnya aku dan kau memang sering lupa, bahwa sebuah kesusahan itu dikalahkan oleh 2 kemudahan. Sayangnya kita selalu terfokus pada kesusahan masalah daripada kemudahan yang bersamanya. Sebenarnya, yang kita perlukan hanyalah merubah sudut pandang kita, cara kita memandang masalah itu. Lihatlah kemudahannya bukan kesusahannya. Seharusnya….
Bukankah masalah itu seperti soal ujian yang diberikan guru kepada
muridnya??. Gurunya adalah Allah yang hendak menguji kita hambanya ini dengan soal-soal kehidupan yang harus kita selesaikan. Untuk apa? Agar dapat membedakan mana murid yang pandai, mana murid yang kurang. Mana murid yang selalu mendengarkan penjelasan guru, mana yang ogah-ogahan. Mana murid yang patuh pada perintah dan ajaran guru mana yang tidak memperdulikannya. Jadi untuk sukses menjawab soal, tak akan bisa hanya dengan melihat soalnya saja. Dekati gurunya. Dengarkan penjelasannya, patuhi perintahnya, jauhi larangannya.
Niscaya kita akan berhasil mengerjakan. Dan, jika kita berhasil mengerjakan soalnyanya, kita akan naik tingkat dan guru pun akan menyukai kita. Maukah kau menjadi murid teladan di sisi gurumu??
Nah, sahabat. Hadapi masalahmu dengan mendekat dengan-Nya. Kau tak akan bisa jika kau hanya mengandalkan kemampuanmu semata. Kau butuh Dia Yang Maha Kuasa untuk membantumu. Sudahkah kau memohon petunjuk pada-Nya tentang masalah yang kau hadapi??
Sahabat, marilah kita bersama-sama mendatangiNya, bertanya padaNya, memohon petujukNya. Karena masalah yang ia berikan pada kita sebenarnya untuk kita sendiri. Kitalah yang mengubah masalah itu menjadi hal buruk karena sikap kita terhadap masalah tersebut.
Karena untuk menjadi tajam, pisau memang harus diasah..
Karena untuk naik kelas, murid memang harus diuji..
Wallahu’alam